Kamis, 22 Januari 2009

JURUS JITU MENJAWAB ”ISU MIRING” GURU


Sepatah kata mengawali tulisan ini untuk mengingatkan betapa uniknya mereka ....


Anakmu bukan milikmu.

Mereka putra-putri Tuhan yang kangen pada diri sendiri.

Mereka lahir lewat dirimu.

Akan tetapi mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.

Curahkan pada mereka kasih sayangmu,

tapi hendaknya jangan doktrinkan bentuk pikiranmu

Sebab pada diri mereka ada semesta pikiran tersendiri.

(Kahlil Gibran)

Akhir-akhir ini, warta tentang ”ISU MIRING” yang sering kita jumpai merebak dan dikalangan masyarakat dan diwartakan dalam mass media, media eletronik, baik lokal maupun nasional, misalnya : kekerasan terhadap peserta didik baik fisik maupun mental, guru malas masuk kelas, guru malas membaca, guru takut membuat KTI, dan sebagainya, itu wajar. Anggap saja sebagai tantangan dan untuk menjawab hal tersebut marilah kita mengembangkan motivasi berprestasi dalam diri pendidik sebagai agen pembelajaran, dengan delapan jurus jitu.

Motivasi berprestasi

Motivasi berprestasi adalah suatu dorongan pada seseorang untuk berhasil dalam kompetisi dengan mutu standar keunggulan tertentu (Mc Clelland et. al, 1953). Atkinton (dalam Cohen, 1976, Ardhana, 1990) membedakan motivasi berprestasi yaitu untuk meraih keberhasilan, dan untuk menghindari kegagalan. Motivasi berprestasi sebagai keinginan untuk mengalami keberhasilan dan peran serta kegiatan dimana keberhasilan tergantung pada upaya dan kemampuan seseorang (Slavin, 1997).Motivasi berprestasi dapat dapat dilihat dari sikap dan perilaku seperti keuletan, daya tahan, keberanian menghadapi tantangan, dan kegairahan serta kerja keras (Ardhana, 1990). Degeng (2001) menyatakan motivasi berprestasi didefinisikan sebagai keinginan untuk mencapai prestasi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Pendidik sebagai agen pembelajaran apa itu maksudnya ?

Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani, dan rohkani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.(PP RI Nomor 19 tahun 2005).

Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi dan berkompetensi sebagai guru, dosen, konselor, pamong, pamong belajar, waidyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan

Pendidik sebagai agen pembelajaran (learning agent) dimaksud adalah peran pendidik antara lain fasilitator, motivator, pemacu, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik.

Kompentensi yang dimiliki sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan usia dini meliputi: (1) Kompentensi pedagogik, (2) Kompetensi kepribadian, (3) Kompetensi profesional dan (4) Kompetensi sosial.

Bukan merupakan pekerjaan yang mudah agar dapat tumbuh kembang motivasi berprestasi dalam diri pendidik sebagai agen pembelajaran, oleh karena itu harus diusahakan, dan dilakukan mulai dari diri sendiri. Delapan jurus jitu antara lain:

  1. Mencintai pekerjaan dengan tulus, ikhlas karena Alloh. Sebagai agen pembelajaran akan bekerja dengan sungguh-sungguh, setiap nafasnya disumbangkan pada kemajuan peserta didiknya karena Alloh semata. Sehingga ada sesuatu yang memancar dalam dirinya.
  2. Kekinian selalu belajar menambah wawasan keilmuan. Sebagai agen pembelajaran terus menambah ilmu pengetahuan, terasa kering apabila tidak membaca dan menambah ilmu, dengan cara menyisihkan waktu barang satu jam setiap hari untuk telusuri jagat ilmu pengetahuan melalui dunia nyata yaitu membaca dan dunia maya. Sehingga mempunyai kemampuan menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.
  3. Kembangkan kejujuran. sebagai agen pembelajaran mempunyai kejujuran maksudnya adalah lurus hati, tidak curang, baik pada diri sendiri maupun pada peserta didiknya. . Sehingga mempunyai kepribadian yang sabar, mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, disiplin menjadi teladan bagi peserta didik dan beraklak mulia
  4. Kembangkan kecerdasan intelgensi, emosional dan spiritual. Sebagai agen pembelajaran bisa memadukan antara ketiga kecerdasan tersebut, sehingga apa yang dipikirkan, diperbuat dibimbing oleh kematang spiritual. Jadikan diri anda motivator unggul untuk mengembangkan atmosfir belajar.
  5. Kembangkan berpikir positif. Sebagai agen pembelajaran selalu berpikir positif, menjawab isu miring dengan memotivasi diri agar lebih maju dan berkualitas.
  6. Jangan pernah kompromi dengan penyakit hati. Sebagai agen pembelajaran menjauhkan diri dari iri dengki, malas, merasa bisa, ambisius, mudah menyerah, egois, virus ini dapat menjalar pada peserta didik.
  7. Kembangkan pengelola konflik. Agen pembelajaran juga manusia mempunyai permasalahan yang dihadapi, baik masalah pribadi maupun sosial. Bidang pekerjaannya bersentuhan dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali, dan masyarakat sekitar, yang rentan dengan konflik. Oleh sebab itu manajemen konflik perlu dikuasai dengan baik.
  8. Saling memberi semangat, dorongan untuk maju, berkualitas, antar sesama agen pembelajaran, agar mempunyai kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik, meliput perancangan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktuliasasikan berbagai potensi yang dimilikinya.


6 komentar:

Dyah mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Sukadi mengatakan...

Menang anak-anak Indonesia terus di nina bobo atau di manjakan. Saya rasa semangat dan nilai juangnya rendah Peran guru sebagai ortu kedua sangat dibutuhkan.

MEDIA BELAJAR ONLINE mengatakan...

Blog dan artikel ibu bagus sekali. Saya setuju dengan pengembangan profesi guru, apalagi dengan sertifikasi lebih setuju lagi. Tapi ya harus konsekwen. Kalau gaji dah dinaikin, kerja yang sungguh-sungguh.

Salam edukasi

haryono

Mbah Suro mengatakan...

Terima kasih sudah mampir di blog saya, selamat berkarya semoga dengan sertifikasi guru anda dapat meningkatkan prestasi dan menikmati. Amin

Study For a Better Life mengatakan...

yaa memang masih miring buuu kondisi pendidikan kita terutama SDMnya yaa kira-kira hampir sekitaran 60% belum profesional loo buuk. tapi itu merupaka cambuk bagi kita tuk berpacu dalam ilmu, berkreasi dalam seni dan berpresatsi mengejar cita-cita yang tinggi

Dyah mengatakan...

Terima kasih atas kunjungan panjenengan di blog saya, dan mudah-mudahan sentilan "ISU MIRING" dapat menggugah yang 60 % tadi.